Rektor IPB: Teknologi Pertanian Untuk Ketahanan Pangan Dan Atasi Krisis Iklim

SIARAN PERS

Nomor: SP. 086/HUMAS/PPIP/HMS.3/4/2024

Rektor IPB University Prof Arif Satria menyatakan tantangan triple planetary crisis tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan tanggung jawab bersama. Kolaborasi antar pemangku kepentingan, mulai dari Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, dunia usaha hingga masyarakat diperlukan.

“Yang paling penting Pemerintah, Perguruan Tinggi dan masyarakat harus bersatu, karena tidak bisa mengatasi perubahan iklim itu sendiri-sendiri,” ujarnya dalam acara Festival Pengendalian Lingkungan yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu (24/4/2024).

Pada kesempatan tersebut, Ia menjelaskan triple planetary crisis bagaimana dampak terhadap pertanian di Indonesia. Pertanian memang erat kaitannya dengan tiga tantangan tersebut.

Pertanian bisa berdampak terhadap perubahan iklim, misalnya akibat dari pemupukannya yang kurang pas, atau kebutuhan airnya yang begitu besar. Namun, pertanian juga bisa ikut terdampak oleh perubahan iklim, dimana setiap kenaikan suhu 1 derajat,  maka produktivitas nasional itu bisa turun 10%.

“Oleh karena itu, apabila kita tidak mampu, untuk bisa memitigasi dengan baik perubahan iklim ini, maka produksi pangan kita memang akan cenderung menurun sehingga diperlukan langkah-langkah lebih proaktif,” ungkapnya.

IPB University sendiri telah melakukan berbagai inovasi untuk mengatasi ancaman terhadap ketahanan pangan nasional, diantaranya melalui IPB 9G, varietas baru yang tahan terhadap perubahan iklim. Varietas ini mempunyai kemampuan untuk menghemat pupuk sampai 25%, dan kemampuan untuk bisa menghemat air 10-15%.

“Artinya, yang saat ini kita khawatirkan bahwa pertanian itu boros air, sebenarnya sudah bisa kita hadirkan sebuah varietas yang lebih baik,”kata Arif.

Kemudian, terobosan kedua adalah dari sisi sistem budidayanya. IPB University mengembangkan bio imunisasi dan bio pestisida.  Dengan begitu, kita sudah mulai kurangi intervensi zat-zat kimia.

“Jadi saya kira pemerintah perlu semakin fokus untuk memperkuat kemampuan dalam intervensi yang serba bio, karena itu lebih aman terhadap manusia dan juga lebih ramah lingkungan, lebih tahan terhadap perubahan iklim dan seterusnya,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK Sigit Reliantoro mengapresiasi berbagai pihak yang ikut menyumbangkan ilmunya dalam forum yang dihadiri perwakilan pemerintah daerah termasuk Rektor IPB University Prof Arif Satria tersebut.

Sigit menjelaskan, Festival Pengendalian Lingkungan membahas target Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH), target pengawasan, serta target pemulihan yang dapat dicapai oleh pemerintah daerah. Selain itu, acara ini juga menjadi tempat berbagi ilmu dari narasumber yang berasal dari beragam sektor,

“Kita mendapat banyak ilmu dari para narasumber. Ada juga kesepakatan-kesepakatan yang dicapai misalnya target indeks kualitas lingkungan hidup, target pengawasan, dan target pemulihan. Kemudian, target respons dari dampak yang ada sudah disepakati oleh teman-teman di Provinsi, tinggal kita pelaksanaan tahun ini monitoringnya. Sekali lagi, kami sangat berterima kasih atas hal-hal tersebut,” ujarnya.

Melalui Festival Pengendalian Lingkungan, KLHK mengajak Dinas Lingkungan Hidup di daerah untuk memanfaatkan fakta-fakta dan ilmu yang dibagikan dalam acara tersebut sebagai dasar untuk bernegosiasi, meminta dukungan anggaran dari DPRD, meminta dukungan politik dari Pimpinan Daerah dan juga meyakinkan dinas yang lain agar memiliki visi yang sama dalam mengatasi permasalahan perubahan iklim, kerusakan lingkungan dan kehilangan keanekaragaman hayati.

_

Jakarta, KLHK, 26 April 2024

Penanggung jawab berita:

Kepala Biro Hubungan Masyarakat, KLHK

U Mamat Rahmat

PPID Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan

Menteri LHK Ajak Generasi Muda Terus Bergerak Maju, Ciptakan Solusi Berkelanjutan Untuk Masa Depan

SIARAN PERS
Nomor: SP. 087/HUMAS/PPIP/HMS.3/4/2024

Menteri LHK Siti Nurbaya, yang juga bertindak sebagai Menteri ESDM Ad Interim, memberikan penghargaan kepada para pemenang karya tulis nasional terkait energi, iklim dan keberlanjutan (National Energy, Climate, and Sustainability Competition/NECSC) Tahun 2024 untuk kategori lingkungan dan energi di Gedung Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung, pada Senin (29/04).

“Kompetisi ini sangat penting, terutama pada konteks dimana kita sedang sangat aktif bekerja dalam upaya mengatasi dampak perubahan iklim, dengan berbasis pada pengetahuan,” ujar Menteri Siti dalam sambutannya di hadapan para peserta dan undangan yang hadir.

Pemberian penghargaan ini merupakan rangkaian acara Green Impact Days – Green Impact for Greener Indonesia dalam rangka Hari Ulang Tahun Rakyat Merdeka yang tahun 2024 ini telah berusia 25 tahun. Acara yang digelar oleh RM dan Society of Renewable Energy (SRE) ini mengambil tema tentang Ketahanan Pangan, Air, dan Energi untuk Indonesia. Tema ini, menurut Menteri Siti sangat relevan dan telah menjadi perhatian Presiden RI Bapak Joko Widodo.

Semua yang dirancang dalam rangkaian acara HUT Rakyat Merdeka ke-25, disampaikan Menteri Siti merupakan aspek dan dimensi sangat penting serta merupakan langkah jitu dan jawaban bagi kelangsungan hidup Indonesia kita.

“Untuk itu, saya menyampaikan salam hangat Yth Bapak Presiden Joko Widodo kepada peserta dalam acara ini, dan ucapan terima kasih serta apresiasi atas prakarsa kerja-kerja RM dan SRE dalam rangkaian memperkuat ketahanan pangan, energi dan air di Indonesia,” ujarnya.

Menteri Siti pun mengucapkan selamat dan apresiasi yang tinggi kepada para pemenang NECSC 2024 atas dedikasi dan kerja keras yang telah ditunjukkan dalam kompetisi ini. Kompetisi ini bukan hanya sekedar ajang untuk meraih kemenangan, tetapi juga merupakan sebuah kesempatan untuk memperjuangkan isu-isu penting yang berkaitan dengan masa depan bumi kita.

“Karya yang telah disusun tidak hanya menginspirasi, tetapi juga membawa kontribusi yang berarti dalam upaya kita bersama untuk mengatasi tantangan lingkungan dan perubahan iklim. Dengan semangat inovasi dan kepedulian kita semua, saya yakin bahwa kita dapat terus bergerak maju dalam menciptakan solusi-solusi berkelanjutan untuk generasi masa depan,” ungkap Menteri Siti.

Kompetisi NECSC 2024 berhasil menjaring 1.062 peserta yang tersebar di 230 sekolah dan 170 kampus. Peserta tersebut memilih kategori energi dan lingkungan yaitu 48% dan 52%, yang terdiri dari 80% mahasiswa dan 20% siswa.

Berbicara generasi muda, Menteri Siti mengungkapkan bahwa sejak menjadi Menteri LHK di tahun 2014, Ia terobsesi untuk Indonesia bisa memiliki Generasi Lingkungan, Generasi Muda yang deeply melembaga dengan kecintaan pada lingkungan. Menteri Siti menilai hal tersebut sudah keliatan arahnya dengan atensi generasi muda kepada masalah sampah sejak tahun 2016-2017 dan dengan penananam pohon di tahun-tahun 2018-2019, perkembangan green leaders dan society renewable energy. Selain itu, munculnya inisiatif dan langkah-langkah individual dan gerakan aktivis seperti green youth movement, Y-20, SRE, Adiwiyata, kader konservasi, aktivis peduli sampah, youth enterprenuers, dan lain-lain masih banyak lagi. KHLK sendiri saat ini sedang terus menghimpun kapasitas gerakan dan knowledge pooling dari masyarakat, khususnya generasi muda antara lain melalui green ambassador yang sedang terus menerus ditingkatkan.

Dalam upaya pengendalian perubahan iklim, dan isu-isu lingkungan hidup lainnya, saat ini generasi muda khususnya generasi Z dihadapkan pada tantangan berupa eco-anxiety yang disebabkan information overload, negativity instinct, privilege gaps, failure of imagination, and echo chambers.

Untuk mengatasi ini, maka pentingnya menekankan nada optimis dalam wacana publik untuk mengatasi fatalisme dan mendorong tindakan positif. Gerakan ini dikenal dengan Gerakan Climate Optimism.

Climate optimism adalah pola pikir yang mengakui langkah-langkah positif dan pencapaian dalam mengatasi perubahan iklim, sekaligus mengakui tantangan dan kerugian yang ada. Ini bukan tentang menyangkal atau mengabaikan kenyataan yang ada, namun memahami bahwa kita mempunyai solusi dan momentum untuk mencegah keadaan menjadi lebih buruk. Optimisme iklim bertujuan untuk menginspirasi dan memberdayakan masyarakat untuk mengambil tindakan dan menemukan peran mereka dalam gerakan iklim.

Lebih lanjut, Menteri Siti mengatakan hal-hal yang telah dilakukan media Rakyat Merdeka dan Society of Renewable Energy (SRE) dengan melibatkan 47 kampus ternama di Indonesia dengan anggota mencapai 4 ribu orang merupakan bentuk aktualisasi dari prinsip Climate Optimism. Kegiatan kolaborasi antara Rakyat Merdeka dan Society of Renewable Energy dengan membuat kompetensi penulisan artikel dengan tema energi dan perubahan iklim yang dikemas dalam National Energy, Climate, and Sustainability Competition 2024 adalah bentuk Take Actions; Stay Informed, but Set Limits; Connect with Others; Practice Self-Care; Focus on Solutions; dan Educate Others.

“Teruslah bersemangat dan berkontribusi dalam upaya menjaga keberlanjutan bumi kita. Terima kasih Generasi Muda Indonesia,” pungkas Menteri Siti.

Pada acara tersebut, diluncurkan buku Green Youth Outlook 2024, buku Green Agriculture dan website Green Impact. Sebuah platform yang menjadi indikator aspek keberlanjutan, yaitu perkembangan dan riset green energy dan green economy di seluruh Indonesia.

Hadir dalam acara tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika, Sekjen Kementerian LHK, Sekjen Kementerian ESDM,  Inspektur Jenderal KLHK, Dirjen PPKL, Staf Ahli Menteri LHK Bidang Energi, CEO Rakyat Merdeka, Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Kementerian LHK dan Kementerian ESDM, Dewan Juri, Founders SRE, pimpinan dunia usaha, Green Leaders dan Green Ambassadors serta para siswa dan mahasiswa.(y)
___
Jakarta, KLHK, 29 April 2024

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat, KLHK
U Mamat Rahmat

PPID Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Tanam Serentak 25.000 Mangrove Di 25 Lokasi Seluruh Indonesia Inisiatif Media Untuk Mitigasi Iklim

Nomor: SP.083/HUMAS/PPIP/HMS.3/4/2024

 

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya memimpin aksi Penanaman Mangrove Serentak dari Kawasan Ekowisata Mangrove Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis 25 April 2024. Penanaman Mangrove ini dilakukan serentak di 25 lokasi seluruh Indonesia.

Penanaman mangrove serentak ini merupakan bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, pemulihan kualitas lingkungan hidup, dan percepatan rehabilitasi hutan dan lahan, serta upaya untuk memperbaiki kualitas lingkungan dengan memperbanyak tegakan pohon/tanaman juga meningkatkan wawasan dan pemahaman masyarakat atas pelaksanaan program pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan khususnya kegiatan penanaman pohon.

“Kita pahami dan tahu persis bahwa keberadaan pohon dan tutupan lahan yang baik akan meningkatkan daya dukung alam dalam mitigasi perubahan iklim. Selain itu juga sebagai langkah positif restorasi dan melindungi lingkungan. Kita tidak hanya memberikan manfaat bagi bumi, tetapi juga  menciptakan warisan untuk generasi mendatang,” ujar Menteri Siti.

Menteri Siti pun menekankan jika pelibatan masyarakat untuk bekerjasama memulihkan lingkungan termasuk dengan upaya penanaman pohon pada banyak hal juga  harus dapat men-generate income masyarakat. Mengatasi perubahan iklim dengan tanam pohon dan upaya pelestarian harus juga sejalan dengan upaya membangun kesejahteraan masyarakat. “Kerja saja ngga cukup, tapi harus bekerja dan berpenghasilan,” imbuh Menteri Siti.

Penanaman serentak kali ini merupakan bulan kelima setelah dilakukan tanam serentak se- Indonesia dalam keseluruhan rangkaian penanaman serentak selama musim penghujan. Dan untuk hari ini dilaksanakan penanaman 25.000 batang mangrove di 25 lokasi di 23 provinsi seluruh Indonesia.

Menteri Siti melanjutkan jika penanaman mangrove serentak ini juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia kepada dunia terkait penurunan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lainnya melalui Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Penanaman mangrove ini pun menjadi bagian dari penanaman pohon serentak tahun 2023-2024 yang diinstruksikan oleh Presiden Joko Widodo pada akhir tahun lalu untuk memanfaatkan datangnya musim penghujan.

“Untuk itu, pada kesempatan hari ini saya mengajak kita semua, aparat, bisnis leaders, para aktivis, para pemangku kepentingan yang ada dan seluruh elemen masyarakat khususnya generasi muda, untuk kita dapat bersama bahu-membahu memberikan kontribusi nyata di lapangan/masing-masing area of interest/responsibility, guna mendukung upaya pengendalian perubahan iklim secara masif dan terukur, antara lain dengan menanam pohon, termasuk mangrove,” tutur Menteri Siti.

Saat ini Pemerintah Indonesia tengah membangun tata kelola ekosistem mangrove. Secara umum kita telah memiliki Roadmap Rehabilitasi Mangrove Nasional Tahun 2021-2030, sedang dalam proses penyelesaian Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Rancangan PP tersebut diharapkan dapat segera terbit guna memberikan kepastian hukum pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove, baik bagi pemerintah maupun masyarakat.

Kegiatan penanaman kali ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan Harian Rakyat Merdeka, kelompok pemuda penggerak Society of Renewable Energy (SRE), Pemerintah Daerah, Green Leader Indonesia, Green Youth Movement, serta berbagai mitra dan seluruh lapisan masyarakat.

“Bersama-sama dengan para stakeholder, seperti pada hari ini bersama Harian Rakyat Merdeka dan Society Renewable Energy (SRE), serta para generasi muda, penggiat lingkungan, mari kita tingkatkan kepedulian terhadap bumi melalui penanaman mangrove secara serentak. Kelestarian bumi bukanlah tanggungjawab perorangan. Kelestarian bumi adalah tanggungjawab semua pihak yang  hidup di bumi tanpa terkecuali. Oleh karena itu kesadaran akan pentingnya kelestarian bumi perlu ditanamkan pada diri masing-masing individu sedini mungkin dan secara  berkesinambungan,” tegas Menteri Siti.

Menteri Siti pun mengucapkan terima kasih kepada Harian Rakyat Merdeka dan memberikan selamat atas hari jadi ke-25 Harian Rakyat Merdeka yang jatuh tepat di tanggal 25 April.

“Bangun Harmoni dengan Alam, Mulailah Menanam” tegas Menteri Siti.

CEO Rakyat Merdeka Group, Kiki Iswara Darmayana mengucapkan terimakasih kepada KLHK atas dukungan penuhnya pada kegiatan penyelamatan lingkungan dan hutan yang diinisiasi oleh rekan media dan para pihak-pihak terkait seperti yang terjadi pada hari ini. Ia pun berharap agar kegiatan-kegiatan seperti ini dapat terus berlangsung kedepannya.

Penanaman mangrove serentak ini juga melibatkan video conference untuk menyapa dan berinteraksi dengan para peserta penanaman pohon mangrove serentak di seluruh Indonesia, seperti di Kabupaten Dumai Provinsi Riau, Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat, Kota Denpasar Provinsi Bali, Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung, Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur, dan Tangerang Provinsi Banten.

Daftar 25 lokasi penanaman serentak seluruh Indonesia yang dilakukan hari ini adalah:
1. Ekowisata Mangrove Penjaringan – Jakarta dipimpin oleh Menteri LHK dengan Pendamping Dirjen PDASRH.
2. Dumai – Riau dipimpin oleh Sekretaris Jenderal dan Kepala BP2SDM, Pendamping PPT Pratama Setjen dan BP2SDM.
3. Karawang – Jawa Barat dipimpin oleh Inspektur Jenderal, Pendamping PPT Pratama Itjen.
4. Jayapura – Papua dipimpin oleh Dirjen PKTL, Pendamping PPT Pratama Ditjen PKTL.
5. Brebes – Jawa Tengah dipimpin oleh Dirjen KSDAE, Pendamping PPT Pratama Ditjen KSDAE.
6. Pasuruan – Jawa Timur dipimpin oleh Dirjen PHL, Pendamping PPT Pratama Ditjen PHL.
7. Pangandaran – Jawa Tengah dipimpin oleh Dirjen PPKL, Pendamping PPT Pratama Ditjen PPKL.
8. Tanjung Jabung Timur – Jambi dipimpin oleh Dirjen PSLB3, Pendamping PPT Pratama Ditjen PSLB3.
9. Probolinggo – Jawa Timur dipimpin oleh Dirjen PPI, Pendamping PPT Pratama Ditjen PPI.
10. Padang – Sumatera Barat dipimpin oleh Dirjen PSKL, Pendamping PPT Pratama Ditjen PSKL.
11. Kota Ambon – Maluku dipimpin oleh Dirjen PHLHK, Pendamping PPT Pratama Ditjen PHLHK.
12. Tangerang – Banten dipimpin oleh Kapus P3E Jawa, Pendamping PPT Pratama Setjen.
13. Lombok Barat – NTB dipimpin oleh Kepala BSI, Pendamping PPT Pratama BSI.
14. Bengkulu – Bengkulu dipimpin oleh SAM Bid. IPI, Pendamping Kapus P3E/Kababes.
15. Bandar Lampung – Lampung dipimpin oleh SAM Bid. Energi, Pendamping Kapus P3E/Kababes.
16. Muna – Sulawesi Tenggara dipimpin oleh SAM Bid. ESDA, Pendamping Kapus P3E/Kababes.
17. Denpasar – Bali dipimpin oleh SAM Bid. Pangan, Pendamping TAM Bid. KPJ KLN, Kapus P3E/Kababes.
18. Banyuasin – Sumatera Selatan dipimpin oleh SKM Bid. Jaringan LSM dan AMDAL, Pendamping Kapus P3E/Kababes.
19. Tidore Kepulauan – Maluku Utara dipimpin oleh SKM Bid. Media Komunikasi LHK, Pendamping Kapus P3E/Kababes.
20. Parigi Moutong – Sulawesi Tengah dipimpin oleh SKM Bid. Konstitusionalitas Kemasyarakatan, Pendamping Kapus P3E/Kababes.
21. Gorontalo – Gorontalo dipimpin oleh SKM Bid. Edukasi Publik, Kelestarian SDAL, Pendamping Kapus P3E/Kababes.
22. Kabupaten Kupang – NTT dipimpin oleh TAM Bid. Pengembangan Persemaian Modern, Pendamping Kapus P3E/Kababes.
23. Mamuju – Sulawesi Barat dipimpin oleh TAM Bid. Pembinaan Partisipasi Masyarakat dan Generasi Lingkungan, Pendamping Kapus P3E/Kababes.
24. Aceh Besar – Aceh dipimpin oleh TAM Bid. Restorasi dan Kemitraan Konservasi, Pendamping Kapus P3E/Kababes.
25. Kalimantan Timur dipimpin oleh Kapus P3E Kalimantan, Pendamping Kepala UPT Kaltim.

Turut hadir mendampingi Menteri LHK, Kepala BRGM, Dirjen PDASRH, para Pejabat Tinggi Pratama KLHK, Perwakilan Pemerintah Daerah DKI Jakarta, Business Leaders, Aktivis dan Rekan-Rekan Media, Ibu-Ibu Darma Wanita KLHK, serta para Generasi muda dari Siswa-siswi SMK Al Mutaqien, SMP Pluit Raya, SMK Pluit Raya serta kurang lebih 100 Siswa-siswi dari Sekolah Luar Biasa (SLB) yaitu: SLBN 5 Jakarta Barat, SLBN 7 Jakarta Timur, SLBN 8 Jakarta Utara, dan SLBN 12 Jakarta Selatan.(*)

___
Jakarta, KLHK, 25 April 2024

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat, KLHK
U Mamat Rahmat

PPID Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Hari Bumi 2024: Planet vs Plastics

Hari Bumi Sedunia menjadi momen penting yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan dan pelestariannya. Pertama kali diselenggarakan pada tahun 1970.

Merujuk pada tema tahun 2024 “planet vs plastics”,  Peringatan Hari Bumi Sedunia tahun ini bertujuan untuk menghapuskan semua jenis plastik sekali pakai dan mendesak adopsi perjanjian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang polusi plastik, serta menuntut kebijakan untuk mengakhiri fast fashion yang berdampak pada kerusakan lingkungan.

Hari Bumi merupakan waktu yang penting untuk kita mengingat dampak besar jika tidak menjaga lingkungan, mari kita berikan kontribusi yang positif bagi lingkungan sekitar dan bumi itu sendiri. Tak hanya pada momen-momen tertentu, tetapi setiap harinya.

 

Dukungan Kerajaan Belanda dalam Penguatan Generasi Muda dan Komunitas Agama untuk Mencapai Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan

Permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini membutuhkan pendekatan komprehensif melalui dimensi sosial dan nilai-nilai normatif yang dianut masyarakat Indonesia, termasuk agama. Keyakinan agama berpotensi mempengaruhi perilaku manusia dalam aspek-aspek kehidupannya. Peran strategis agama di Indonesia dapat memberi kontribusi dalam memperkuat aksi-aksi gerakan lingkungan berbasis keagamaan.

Pada Focused Group Discussion (FGD) program Religious Environmentalism Action (REACT), tim riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta menjelaskan rencana kegiatan Pemberdayaan Generasi Muda dan Komunitas Agama dalam Mencapai Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan di Indonesia. Diskusi menarik yang dilaksanakan di Jakarta, 25 April 2024 ini melibatkan unit kerja terkait di Kementerian Agama, Kemendikbud, KLHK, BRIN, BPDLH, dan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia.

Direktur Kemitraan Lingkungan KLHK, Dra. Jo Kumala Dewi, M.Sc., menanggapi rencana kegiatan ini sebagai upaya positif sebagaimana yang telah telah didorong KLHK sejak lama, melalui berbagai program seperti Penghargaan Kalpataru, Sekolah Adiwiyata, Ekopesantren, Saka Kalpataru, Green Leadership Indonesia, juga pendekatan religi melalui penerbitan Buku Tutur Alam yang merupakan kumpulan perspektif berbagai agama di Indonesia tentang kepedulian terhadap lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup (2012) pernah melakukan studi Perilaku Peduli Lingkungan, oleh karenanya survei nasional yang akan dilakukan dapat memperbarui dan memperkaya data ilmiah yang ada.

Kegiatan kerjasama dengan Kedubes Belanda ini meliputi Survey Nasional terlkait Agama, Lingkungan, dan Perubahan Iklim, dan berbagai bentuk Kampanye Publik. Diharapkan kegiatan ini dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan bagi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia.

Kegiatan kolaborasi multipihak tentu sangat disambut baik karena permasalahan lingkungan adalah tanggung jawab semua individu. Kepada perwakilan Kedubes Belanda, Ibu Jo menyampaikan apresiasi dan potensi sinergitas dalam program/kegiatan lingkungan lainnya di masa yang akan datang.